Ku lepaskan kau pagi-pagi buta
saat semua telah terlelap dalam sebuah nyata yang berwujud mimpi.
Saat semua sunyi dan udara tak berasa lagi di indra ku,
Saat matahari masih malas untuk bangun,dan malam masih menyisakan sedikit kuasanya,
Sunyi. Gelap. Hitam. Tak berasa.
Benar-benar buta.
Tapi hatiku tidak. Hatiku benar-benar tlah bangun dari tidur panjangnya. Dan mataku juga telah terbuka lebar untuk membukakan pintu sebelum kau melangkah keluar untuk selamanya.
Sebagaimana kau datang pada awalnya.
Tak ada yang perlu di katakan.
Karna hati kita sudah tau.
Tak perlu mencoba membaca mata
Karna jendela hati tak selalu melalui mata,
Tak perlu mengira-ngira,
Karna jiwa telah bicara banyak,dan lelah..
Saat buta tak lagi buta,
Kau telah melangkah jauh,membawa sepucuk surat tanda masuk ke pintu yang lain,
Kita telah banyak bicara,melihat dengan sangat jelas,mendengar apa yang bahkan tak penting dan bersentuhan sekian lama,
Itu sudah cukup. Bagi jiwa kita.
Bukaknkah bahasa dunia terlalu pendek dan singkat untuk di menegrti sebuah hati?
(sembari menunggu surat pengantar itu tiba)
Minggu, 20 Juni 2010
Kamis, 10 Juni 2010
Dia Mengasihimu
Entah mengapa aku suka tidur malam. Mungkin lebih tepatnya bukan suka tapi kebiasaan. Bila tidur lebih awal,tetap saja mata ini tidak bisa merem untuk terlelap. Akibatnya mau tak mau aku akan molor tidur malam mungkin malah dini hari baru bisa terlelap.
Ga tau kenapa,kemarin aku tidur lebih awal dari jadwal ‘normal’ tidurku. Habis makan dan cangkruk sebentar,aku tiba-tiba ngantuk dan akibatnya bisa di tebak. Sang insom yang biasanya suka banget ngintil aku,hari itu pergi entah ke mana.
Dan entah kenapa,tiba-tiba dini hari,jam 2 an aku bangun. Nglilir bahasa jawanya. Habis gitu mata ga bisa merem lagi. Akhirnya ya bengong dewe. Dan entah mengapa,tiba-tiba aku rindu sekali padaNya. ada keinginan untuk menjauh dan nyepi agar aku bisa mendengar suaraNya. Kerinduan itu seperti api yang tersiram bensin. Begitu menyala-nyala. Dan entah,aku juga merasakan Dia juga sama rindunya denganku.
Dan entah bagaimana,pagi hari aku merasakan Dia begitu dekat denganku,udara yang ku hela,bau melati di bawah jendela,dan embun yang masih enggan kering di atas rerumputan terasa begitu indah dan lain dari biasanya. Mungkin aku agak cengeng. Aku terharu dengan apa yang ku lihat dan apa yang ku rasakan. Lanjut lagi,berjalan bertemu orang-orang,entah mengapa mereka tersenyum padaku,dan angkot yang biasanya lama tiba-tiba datang dan nyamperin aku begitu saja. Apa yang Tuhan hendak berikan padaku? Kenapa Dia begitu baik padaku yang rapuh dan berdosa ini? Demikian nikmat kado yang Dia berikan padaku.
Dari apa yang ku alami,aku belajar lagi dariNya. Tuhan terkadang juga rindu dan Dia ingin bersua dengan kita. Lewat hembusan angin,lewat pemandangan yang indah di depan kita,lewat keramahan orang-orang yang kita jumpai,lewat kemudahan-kemudahan dalam hidup,semua itu adalah caraNya untuk berkomunikasi dengan kita. Mungkin pada level yang lebih tinggi,ada orang-orang yang sudah terlatih daya sense nya untuk membaui,mendengarkan,melihat,merasakan,memegang akan kasihNya padanya. Dia mudah sekali meneteskan air mata bila melihat keindahan di depannya. Bukan karena cengeng,tapi sensenya sangat terlatih dan ia dekat sekali dengan sentuha n kasihNya. Setiap hela napasnya,setiap cegukan air yang di minumnya,setiap kunyahan makanan yang masuk ke mulutnya,dia sangat menikmati dan mengannggapnya itu adalah keindahan yang berasal dari kasihNya. Mungkin bisa di lihat contohnya pada orang-orang India yang terkenal dengan Yoganya.Beberapa orang menganggap penderitaan dan sakit adalah jalan mendekatkan diri dan merasakan kasihNya. Mereka melakukan meditasi dengan berbaring di atas paku tanpa terluka sedikitpun. Dan mereka sangat sangat mengerti akan arti dari kasihNya pada mereka. Mungkin kita bisa melihat para martir yang berjuang dalam kesakitan untuk mewartakan warta Kristus pada seluruh dunia. Santo Stefanus misalnya,dia di rajam karena mewartakan warta keselamatan. Dan saat-saat sebelum dia terkulai,dia berseru dia telah melihat wajah Tuhan,dan dia berterima kasih atas itu. sungguh,sangat mengagumkan iman Stefanus. Sehingga dalam penderitaan dan kesakitan ia merasakan Tuhan begitu dekat dan mengasihi dia. Bukannya menyuruh untuk hidup menderita baru bisa merasakan kasihNya tapi Tuhan menampakkan kemuliaan,kasih,dan kerinduanNya pada kita melalui banyak hal,meski hal itu adalah remeh dan sepele buat kita. Dan bagi sebagian orang dapat merasakan sentuhan kasihNya meski melalui rasa sakit atau penderitaan.
Mungkin menurut kita selama ini,Tuhan mengasihi kita bila kita dapat lotre,dapat hadiah,dapat apalah yang menjadikan kenikmatan bagi 5 panca indra kita. Kenikmatan duniawi. Padahal sebenarnya Tuhan itu selalu dan tak lelah mengasihi kita loh. Udara yang kita hirup gratis. Sinar matahari gratis. Belum lagi kalo kita mendapat perhatian,senyum,keramahan dari orang-orang di sekitar kita. Semuanya gratis. Coba kalo kita harus mengeluarkan uang hanya untuk melihat orang terssenyum pada kita,berapa juta yang akan keluar dari kantong kita? Mungkin kita perlu membuka hati saja,agar kita bisa lebih merasa bahwa Tuhan itu juga kangen,sayang,ga lupa pada kita. Sehingga hati kita akan senantiasa merasa bahwa kitapun adalah kesayanganNya. Mungkin Tuhan akan sedikit menegur kita,mencolek kita bila kita telah nyeleweng dari jalanNya. Karena Dia rindu kita untuk berkomunikasi dengan Dia,maka dari itu Dia mencolek kita yang udah tersesat untuk kembali padaNya. Jadi jangan berkecil hati bila hidup susah,impian belum tercapai,kasih Tuhan itu ga cuma berwujud materi saja. Pertajam rasa,hati dan iman,maka kita akan melihat ada hal lain yang meski remeh dan sepele itu adalah wujud Dia mengasihi kita. Dan pastilah Dia juga sudah punya surprise yang akan melebihi daripada apa yang kita inginkan,karna Dia tau apa yang kita butuhkan..
(Fre®)
Ga tau kenapa,kemarin aku tidur lebih awal dari jadwal ‘normal’ tidurku. Habis makan dan cangkruk sebentar,aku tiba-tiba ngantuk dan akibatnya bisa di tebak. Sang insom yang biasanya suka banget ngintil aku,hari itu pergi entah ke mana.
Dan entah kenapa,tiba-tiba dini hari,jam 2 an aku bangun. Nglilir bahasa jawanya. Habis gitu mata ga bisa merem lagi. Akhirnya ya bengong dewe. Dan entah mengapa,tiba-tiba aku rindu sekali padaNya. ada keinginan untuk menjauh dan nyepi agar aku bisa mendengar suaraNya. Kerinduan itu seperti api yang tersiram bensin. Begitu menyala-nyala. Dan entah,aku juga merasakan Dia juga sama rindunya denganku.
Dan entah bagaimana,pagi hari aku merasakan Dia begitu dekat denganku,udara yang ku hela,bau melati di bawah jendela,dan embun yang masih enggan kering di atas rerumputan terasa begitu indah dan lain dari biasanya. Mungkin aku agak cengeng. Aku terharu dengan apa yang ku lihat dan apa yang ku rasakan. Lanjut lagi,berjalan bertemu orang-orang,entah mengapa mereka tersenyum padaku,dan angkot yang biasanya lama tiba-tiba datang dan nyamperin aku begitu saja. Apa yang Tuhan hendak berikan padaku? Kenapa Dia begitu baik padaku yang rapuh dan berdosa ini? Demikian nikmat kado yang Dia berikan padaku.
Dari apa yang ku alami,aku belajar lagi dariNya. Tuhan terkadang juga rindu dan Dia ingin bersua dengan kita. Lewat hembusan angin,lewat pemandangan yang indah di depan kita,lewat keramahan orang-orang yang kita jumpai,lewat kemudahan-kemudahan dalam hidup,semua itu adalah caraNya untuk berkomunikasi dengan kita. Mungkin pada level yang lebih tinggi,ada orang-orang yang sudah terlatih daya sense nya untuk membaui,mendengarkan,melihat,merasakan,memegang akan kasihNya padanya. Dia mudah sekali meneteskan air mata bila melihat keindahan di depannya. Bukan karena cengeng,tapi sensenya sangat terlatih dan ia dekat sekali dengan sentuha n kasihNya. Setiap hela napasnya,setiap cegukan air yang di minumnya,setiap kunyahan makanan yang masuk ke mulutnya,dia sangat menikmati dan mengannggapnya itu adalah keindahan yang berasal dari kasihNya. Mungkin bisa di lihat contohnya pada orang-orang India yang terkenal dengan Yoganya.Beberapa orang menganggap penderitaan dan sakit adalah jalan mendekatkan diri dan merasakan kasihNya. Mereka melakukan meditasi dengan berbaring di atas paku tanpa terluka sedikitpun. Dan mereka sangat sangat mengerti akan arti dari kasihNya pada mereka. Mungkin kita bisa melihat para martir yang berjuang dalam kesakitan untuk mewartakan warta Kristus pada seluruh dunia. Santo Stefanus misalnya,dia di rajam karena mewartakan warta keselamatan. Dan saat-saat sebelum dia terkulai,dia berseru dia telah melihat wajah Tuhan,dan dia berterima kasih atas itu. sungguh,sangat mengagumkan iman Stefanus. Sehingga dalam penderitaan dan kesakitan ia merasakan Tuhan begitu dekat dan mengasihi dia. Bukannya menyuruh untuk hidup menderita baru bisa merasakan kasihNya tapi Tuhan menampakkan kemuliaan,kasih,dan kerinduanNya pada kita melalui banyak hal,meski hal itu adalah remeh dan sepele buat kita. Dan bagi sebagian orang dapat merasakan sentuhan kasihNya meski melalui rasa sakit atau penderitaan.
Mungkin menurut kita selama ini,Tuhan mengasihi kita bila kita dapat lotre,dapat hadiah,dapat apalah yang menjadikan kenikmatan bagi 5 panca indra kita. Kenikmatan duniawi. Padahal sebenarnya Tuhan itu selalu dan tak lelah mengasihi kita loh. Udara yang kita hirup gratis. Sinar matahari gratis. Belum lagi kalo kita mendapat perhatian,senyum,keramahan dari orang-orang di sekitar kita. Semuanya gratis. Coba kalo kita harus mengeluarkan uang hanya untuk melihat orang terssenyum pada kita,berapa juta yang akan keluar dari kantong kita? Mungkin kita perlu membuka hati saja,agar kita bisa lebih merasa bahwa Tuhan itu juga kangen,sayang,ga lupa pada kita. Sehingga hati kita akan senantiasa merasa bahwa kitapun adalah kesayanganNya. Mungkin Tuhan akan sedikit menegur kita,mencolek kita bila kita telah nyeleweng dari jalanNya. Karena Dia rindu kita untuk berkomunikasi dengan Dia,maka dari itu Dia mencolek kita yang udah tersesat untuk kembali padaNya. Jadi jangan berkecil hati bila hidup susah,impian belum tercapai,kasih Tuhan itu ga cuma berwujud materi saja. Pertajam rasa,hati dan iman,maka kita akan melihat ada hal lain yang meski remeh dan sepele itu adalah wujud Dia mengasihi kita. Dan pastilah Dia juga sudah punya surprise yang akan melebihi daripada apa yang kita inginkan,karna Dia tau apa yang kita butuhkan..
(Fre®)
Selasa, 08 Juni 2010
~Biru~

Malam itu purnama bundar sempurna
Lautan biru kesayangan kita membiaskan pendarnya. Serasa malam jadi siang. Bulan serupa matahari. Pernahkan kau berpikir begitu? bahwa bulan adalah matahari untuk malam,dan matahari adalah bulan untuk siang? Mungkin fungsinya sangat lain. Tapi penampakannya sama sempurna.
Bersinar. Seperti matahari di siang hari atau bulan saat petang menjelang.
Sama sempurnanya dengan dirimu.
Entah setan mana,atau dewa mana,atau malaikat mana yang telah menancapkan panahnya pada hatiku yang terlanjur biru. Hati ini sudah biru dan layu,saat bertemu denganmu. Dan saat terluka,dia sama biru dan layu. Dia tidak merah seperti hati yang merona sedang jatuh cinta atau berdarah seperti hati yang terluka karena di tinggal asmara. Biru dan layu.
Pernahkan kau berpikir mengapa?
Biru. Dingin. Layu. Dan tak bernadi.
Mungkin seperti itulah definisi biru hatiku.
Seperti daging yang di taruh di freezer. Seperti luka lebam. Seperti gorden rumahku yang bertahun-tahun tak pernah di ganti. Aku suka biru. Tapi bukan biru ini yang di miliki hatiku.
Aku menyimpan biru ini tanpa ku mau.
Aku memeliharanya tanpa ku sirami.
Aku menumbuhkannya tanpa aku buahi.
Aku terlanjur melekat padanya tanpa sempat ku tau kapan aku bisa melepasnya,atau terlepas darinya.
Biru.
Jumat, 04 Juni 2010
KASIH
Suatu hari saat aku mengecek email,aku mendapat kiriman email dari seorang kawan. Kawan ini menulis tentang pengalamannya yang berhubungan dengan keyakinan yang di anutnya. Kebetulan kami punya ketertarikan dalam teologi dan filosofi. Dan dari kawan-kawanku yang berbeda keyakinan,aku mendapat satu titik yang sama dalam ajaran suatu agama. Yaitu tiap agama mengajarkan tentang KASIH.
Kasih itu sangat universal. Itu yang ku tau selama ini. Kasih tidak membedakan siapa yang harus di beri dan bila perlu memberi terus menerus kepada sesama. Itu artinya dalam kasih ada keberanian. Dalam kasih tidak ada ketakutan. Dalam kasih ada pengharapan untuk terus bertahan demi memberi,dan bila perlu mungkin harus terluka karena keberanian mengasihi itu.
Bila ingat tentang memberi tak habis-habisnya,jadi ingat tentang filosofi pohon dan buahnya. Pohon tak pernah protes memberikan kayunya,dan dia terus berbuah meski buahnya harus habis di ambil oleh manusia. Pernahkah pohon menghentikan produksi buahnya saat dia tau buahnya telah habis,bahkan sebelum masakpun,ada saja tangan manusia yang mengambilnya. Memang pohon gak bisa berpikir seperti manusia,tapi makna tersirat dari pohon inilah yang bisa tersurat dalam arti sebuah kasih yang selalu tak lelah memberi.
Memberi tak habis-habisnya,apalagi memberi hingga terluka,adakah kasih seperti itu? seringkali yang nampak adalah kita masih berpikir 2 kali atau bahkan seribu kali bila harus memberi atau berbagi. Kita takut akan omongan orang,kita takut akan efeknya,kita takut akan akibatnya,kita takut dan ketakutan itu akhirnya membelenggu kita sehingga kita terpenjara dalam dunia maya kita. Akhirnya hidup kita jadi kosong karena keduniawian menyingkirkan niat kasih kita,suatu ajaran paling utama Yesus. Dalam iman,pengharapan dan Kasih,yang terbesar adalah Kasih.
Memang tak mudah menyingkirkan ketakutan kita untuk memberi dan berbagi,karena keadaan,kondisi,atau situasi di sekitar kita. Bila kita menolong orang yang berbeda keyakinan dengan kita,kita takut nanti kita di musuhi orang di sekitar kita,atau bila ingin jadi penolong untuk kaum lemah,kita takut jangan-jangan ada pihak-pihak tertentu atau oknum tertentu yang akan memusuhi kita,menyulitkan hidup kita. Atau yang sepele bila ingin memberi orang tak mampu,takut di cap cari muka dan sebagainya. Memang kasih butuh perjuangan. Dan memang kasih itu harus di perjuangkan. Karena Yesus sendiri BERANI untuk mengasihi kita. Dia berani dan tidak takut apapun,sekalipun Dia harus di sesah,di siksa, di cambuk,di salib dan di tombak hingga menhembuskan napas terakhir di kayu salib,kayu yang berisi dosa-dosa kita. Sungguh cinta kasih Yesus sangat sempurna.
Memang mungkin kita hanya manusia biasa,punya kelemahan-kelemahan,dan itu manusiawi. kita punya rasa takut,kuatir,parno dan rasa ego. Mungkin kita ga bisa melawan kelemahan-kelemahan itu secara sekaligus. Kita bisa mulai berbagi dengan yang kecil. Misalnya memberi perhatian pada orang yang curhat,memberi penghiburan pada yang lemah dan susah,kita juga bisa mendoakan sesama yang sedang dalam masalah,bahkan dengan doa bisa menjangkau tempat-tempat terjauh sekalipun. Dan kita lakukan itu dengan tulus. Dan Tuhan tau itu. semakin lama benih kasih itu akan bertumbuh menjadi sebuah akar,dan akhirnya akan tumbuh menjadi pohon yang berbunga dan berbuah. Dan itulah hasil dari kasih yang kita pelihara dalam hidup kita. Buah-buah kasih dari pohon kita akan bisa untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dan kasih akan memberikan berkat dalam hidup kita. Niscaya hidup kita akan terberkati oleh kasih karuniaNya!
Selamat berbagi dan memberi!
Kasih itu sangat universal. Itu yang ku tau selama ini. Kasih tidak membedakan siapa yang harus di beri dan bila perlu memberi terus menerus kepada sesama. Itu artinya dalam kasih ada keberanian. Dalam kasih tidak ada ketakutan. Dalam kasih ada pengharapan untuk terus bertahan demi memberi,dan bila perlu mungkin harus terluka karena keberanian mengasihi itu.
Bila ingat tentang memberi tak habis-habisnya,jadi ingat tentang filosofi pohon dan buahnya. Pohon tak pernah protes memberikan kayunya,dan dia terus berbuah meski buahnya harus habis di ambil oleh manusia. Pernahkah pohon menghentikan produksi buahnya saat dia tau buahnya telah habis,bahkan sebelum masakpun,ada saja tangan manusia yang mengambilnya. Memang pohon gak bisa berpikir seperti manusia,tapi makna tersirat dari pohon inilah yang bisa tersurat dalam arti sebuah kasih yang selalu tak lelah memberi.
Memberi tak habis-habisnya,apalagi memberi hingga terluka,adakah kasih seperti itu? seringkali yang nampak adalah kita masih berpikir 2 kali atau bahkan seribu kali bila harus memberi atau berbagi. Kita takut akan omongan orang,kita takut akan efeknya,kita takut akan akibatnya,kita takut dan ketakutan itu akhirnya membelenggu kita sehingga kita terpenjara dalam dunia maya kita. Akhirnya hidup kita jadi kosong karena keduniawian menyingkirkan niat kasih kita,suatu ajaran paling utama Yesus. Dalam iman,pengharapan dan Kasih,yang terbesar adalah Kasih.
Memang tak mudah menyingkirkan ketakutan kita untuk memberi dan berbagi,karena keadaan,kondisi,atau situasi di sekitar kita. Bila kita menolong orang yang berbeda keyakinan dengan kita,kita takut nanti kita di musuhi orang di sekitar kita,atau bila ingin jadi penolong untuk kaum lemah,kita takut jangan-jangan ada pihak-pihak tertentu atau oknum tertentu yang akan memusuhi kita,menyulitkan hidup kita. Atau yang sepele bila ingin memberi orang tak mampu,takut di cap cari muka dan sebagainya. Memang kasih butuh perjuangan. Dan memang kasih itu harus di perjuangkan. Karena Yesus sendiri BERANI untuk mengasihi kita. Dia berani dan tidak takut apapun,sekalipun Dia harus di sesah,di siksa, di cambuk,di salib dan di tombak hingga menhembuskan napas terakhir di kayu salib,kayu yang berisi dosa-dosa kita. Sungguh cinta kasih Yesus sangat sempurna.
Memang mungkin kita hanya manusia biasa,punya kelemahan-kelemahan,dan itu manusiawi. kita punya rasa takut,kuatir,parno dan rasa ego. Mungkin kita ga bisa melawan kelemahan-kelemahan itu secara sekaligus. Kita bisa mulai berbagi dengan yang kecil. Misalnya memberi perhatian pada orang yang curhat,memberi penghiburan pada yang lemah dan susah,kita juga bisa mendoakan sesama yang sedang dalam masalah,bahkan dengan doa bisa menjangkau tempat-tempat terjauh sekalipun. Dan kita lakukan itu dengan tulus. Dan Tuhan tau itu. semakin lama benih kasih itu akan bertumbuh menjadi sebuah akar,dan akhirnya akan tumbuh menjadi pohon yang berbunga dan berbuah. Dan itulah hasil dari kasih yang kita pelihara dalam hidup kita. Buah-buah kasih dari pohon kita akan bisa untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dan kasih akan memberikan berkat dalam hidup kita. Niscaya hidup kita akan terberkati oleh kasih karuniaNya!
Selamat berbagi dan memberi!
Senin, 31 Mei 2010
Wijining Urip (edited from alang-alang Kumitir bLog)
Wimbaning rasa kang aneng jro ati, wimbaning katongton, pan rumongso anuksma rasane, ing tingal sih rasane kang urip, kumpule dumadi, raos sakahetung.
Mapan aling wijining ngaurip, wijine sawiyah, enur suhut kalawan ngelmune, wadah ira geni lawan angina, ping kalihe malih, siti lawan banyu, iya iku tunggale sawiji sampurnane dadi wong.
Tiningalan iku ing lair ira, iya iku rasa banyu urip, kuwat ira angina, geni karep nepsu iku ingkang amadahi, dadinira awor, iku pada lan lair tamtune.
Rasa cahya manjing marang ngelmi, wiji kang duweni, tan kena cinaturan ingaranan sampurnaning urip, iku dipun cernoh, aja sira karem donya bae, pan weruh wawekasan urip, cahya rasa urip iku dipun weroh .
Sipat iku kang sira tingali marganipun weroh, iyo apan iku ing dadine, yenta weruh sira rupa jati, nggon ira aurip, iku misih bingung .
Iya mengko sira sun tuturi tegese kang raos, aja sira tingal jaba bae, upamanira yen sira guling lamun sira ngimpi , sapa kang andulu raragane pan kira aguling, ing jero miraos wan loro tunggale, nora pisah pan ora atunggil, pilih kang ngawruhi, lir kaca dinulu .
Jroning kaca sira tingali, tanpa dununging nggon, iya uga among sira dhewe kaca iku umpamane jisim, kalimputan urip, sukma kang ndulu, rasa iku kang wujut jati, katingal kang katon, sirno jisim mulih ing asale, mapan asalira duk dumadi, bhumi angina geni, kaping patte banyu.
Jisim alus tan kena ing pati, iyo iku erroh, among rasa nikmat lan larane, tandya wangenan nggon ira aurip.
Lan sakehe kang jro nala tingali sayekti, kalbunira nyatane Hyang Widi, kakelir sayekti, megane pandulu.
Umpamane lir sare lan estri tingal ira raos, sumrah kabeh ing raga nikmate, suka nikmat tan wonten kuwatir, tan ngraos darbeni, sedaya pan kumpul.
Lamun sira yen arsa aguling, tan dyanen sayektos, napas ira pan iku yektine, sarta lamun sira manjing, lampahe aririh, rahmat kang tumurun.
Liyaping netra kang rohmat wus manjing, ing jro manah awor, dadya lali ing kanikmatane, marma datan anget raga iki, tanwruh kula gusti, dudu iyo dudu.
Iya iku al bransanusiri, Mukhammad rasengo, sira kawiti kang sun dadekake, pan wiji sekalir dumadi, saking ing sireki, sira saking ingsun.
Dipun reksa saranaken urip, pasrahna Hyang Manon, dipun nggono rasa sarirane, dipun awae nggonira ngulati, kang trus lawan ngelmi, pituduh ing guru.
Sabdaning gurunen ngati-ati, anuta ing pakon, sarta iklas ing pangidhep kaberah, pati urip datan den rasani, sunya lawan lawan singgih, pan ora kaetung.
Mengko padha sun tuturi malih, brahisih kang katon, kweruhana, ya ing dadine, pan ing raga dununge ing ati, ati ingkang putih, arane pausuh.
Patang prakara dadine kang isih, pan sanes kang enggon, ingkang dhingine jantung nggone, kaping kalihe limpa sadyang ati, tyaspangasih, kaping tiganipun.
Ingkang welas sarta awor asih, iku ning papusuh, tulung tinulung ing kono kuwi, tyas ing sih lakune dhemeni, tresna lan kapengin iku nggonipun.
Ingkang wonten jejantung puniki, kasmaran ingkang wong, iya supe marang liyane, kerut sedyane sih lan rasmi, rasaning sih, sadaya kapengku.
Ingkang kekalih sih dunya kang katon, lana reremen kalawan tunggale, budi piker metu ing jro ati, sabar lileng pati, donya tan kaetung,
Kaweruhana ja sira lali iku kang weruh, ing marmane aling ing paberane, barang cinta pangucap ing osik lawan esir, ya saking Hyang Agung.
Pan tarima lakune kang yekti, iku imaning wong, ingkang padhang nora pethenge, iya padhang tegese pan eling, nora kena lali, iku dhikir Ya Hu.
Erapipun kang dhikir puniki, napas manjing wiwitane panjinge napas, wedalipun napas Hu kang kapuji, ing sajeke urip, melek lawan turu.
Tegese Ya Gusti Pangeran kang urip, kang mubeng tumuwoh, sakabeh kang gumelar, urip langgeng ingkang Maha Suci, aniyata dhikir, ing sakjroning kalbu, iya iku sampurna kang urip, dadene papan awor, awor cahya kang padhange linge, pan ciptanen dadine sawiji, iya ruh ilafi, dadine jeng rasul.
Nalikane sira angabekti, rumongsaha kang awor, tuwin sira dhuk dhikir kalane, pan ing kono nggoning kang ning, raganira iki sirnaning pandulu liyaping netra.
Kebut ing ati akbarira awor, petenging tyas tan aling ragane, Wimbuh ira katingal jro ati mring kang Maha Suci, Sih ira Hyang Agung.
Datan mawi lantarane malih, Sih Pangeraning wong, Iya rahmatira iku kabeh, Yakna rahmat Sih tumurun tan elingling diri, tansah manah liwung.
Mapan aling wijining ngaurip, wijine sawiyah, enur suhut kalawan ngelmune, wadah ira geni lawan angina, ping kalihe malih, siti lawan banyu, iya iku tunggale sawiji sampurnane dadi wong.
Tiningalan iku ing lair ira, iya iku rasa banyu urip, kuwat ira angina, geni karep nepsu iku ingkang amadahi, dadinira awor, iku pada lan lair tamtune.
Rasa cahya manjing marang ngelmi, wiji kang duweni, tan kena cinaturan ingaranan sampurnaning urip, iku dipun cernoh, aja sira karem donya bae, pan weruh wawekasan urip, cahya rasa urip iku dipun weroh .
Sipat iku kang sira tingali marganipun weroh, iyo apan iku ing dadine, yenta weruh sira rupa jati, nggon ira aurip, iku misih bingung .
Iya mengko sira sun tuturi tegese kang raos, aja sira tingal jaba bae, upamanira yen sira guling lamun sira ngimpi , sapa kang andulu raragane pan kira aguling, ing jero miraos wan loro tunggale, nora pisah pan ora atunggil, pilih kang ngawruhi, lir kaca dinulu .
Jroning kaca sira tingali, tanpa dununging nggon, iya uga among sira dhewe kaca iku umpamane jisim, kalimputan urip, sukma kang ndulu, rasa iku kang wujut jati, katingal kang katon, sirno jisim mulih ing asale, mapan asalira duk dumadi, bhumi angina geni, kaping patte banyu.
Jisim alus tan kena ing pati, iyo iku erroh, among rasa nikmat lan larane, tandya wangenan nggon ira aurip.
Lan sakehe kang jro nala tingali sayekti, kalbunira nyatane Hyang Widi, kakelir sayekti, megane pandulu.
Umpamane lir sare lan estri tingal ira raos, sumrah kabeh ing raga nikmate, suka nikmat tan wonten kuwatir, tan ngraos darbeni, sedaya pan kumpul.
Lamun sira yen arsa aguling, tan dyanen sayektos, napas ira pan iku yektine, sarta lamun sira manjing, lampahe aririh, rahmat kang tumurun.
Liyaping netra kang rohmat wus manjing, ing jro manah awor, dadya lali ing kanikmatane, marma datan anget raga iki, tanwruh kula gusti, dudu iyo dudu.
Iya iku al bransanusiri, Mukhammad rasengo, sira kawiti kang sun dadekake, pan wiji sekalir dumadi, saking ing sireki, sira saking ingsun.
Dipun reksa saranaken urip, pasrahna Hyang Manon, dipun nggono rasa sarirane, dipun awae nggonira ngulati, kang trus lawan ngelmi, pituduh ing guru.
Sabdaning gurunen ngati-ati, anuta ing pakon, sarta iklas ing pangidhep kaberah, pati urip datan den rasani, sunya lawan lawan singgih, pan ora kaetung.
Mengko padha sun tuturi malih, brahisih kang katon, kweruhana, ya ing dadine, pan ing raga dununge ing ati, ati ingkang putih, arane pausuh.
Patang prakara dadine kang isih, pan sanes kang enggon, ingkang dhingine jantung nggone, kaping kalihe limpa sadyang ati, tyaspangasih, kaping tiganipun.
Ingkang welas sarta awor asih, iku ning papusuh, tulung tinulung ing kono kuwi, tyas ing sih lakune dhemeni, tresna lan kapengin iku nggonipun.
Ingkang wonten jejantung puniki, kasmaran ingkang wong, iya supe marang liyane, kerut sedyane sih lan rasmi, rasaning sih, sadaya kapengku.
Ingkang kekalih sih dunya kang katon, lana reremen kalawan tunggale, budi piker metu ing jro ati, sabar lileng pati, donya tan kaetung,
Kaweruhana ja sira lali iku kang weruh, ing marmane aling ing paberane, barang cinta pangucap ing osik lawan esir, ya saking Hyang Agung.
Pan tarima lakune kang yekti, iku imaning wong, ingkang padhang nora pethenge, iya padhang tegese pan eling, nora kena lali, iku dhikir Ya Hu.
Erapipun kang dhikir puniki, napas manjing wiwitane panjinge napas, wedalipun napas Hu kang kapuji, ing sajeke urip, melek lawan turu.
Tegese Ya Gusti Pangeran kang urip, kang mubeng tumuwoh, sakabeh kang gumelar, urip langgeng ingkang Maha Suci, aniyata dhikir, ing sakjroning kalbu, iya iku sampurna kang urip, dadene papan awor, awor cahya kang padhange linge, pan ciptanen dadine sawiji, iya ruh ilafi, dadine jeng rasul.
Nalikane sira angabekti, rumongsaha kang awor, tuwin sira dhuk dhikir kalane, pan ing kono nggoning kang ning, raganira iki sirnaning pandulu liyaping netra.
Kebut ing ati akbarira awor, petenging tyas tan aling ragane, Wimbuh ira katingal jro ati mring kang Maha Suci, Sih ira Hyang Agung.
Datan mawi lantarane malih, Sih Pangeraning wong, Iya rahmatira iku kabeh, Yakna rahmat Sih tumurun tan elingling diri, tansah manah liwung.
Cuma Ilusi
Aku tak tau angin dari mana yang membawamu ke mari,
kau begitu ringan,melayang dan beterbangan di depan mataku,apakah aku bermimpi? Kau begitu indah,bersinar bagai kuang-kunang,dank au menatapku dengan selaksa mata bintangmu,mengapa kau menghampiriku? Tidakkah kau tau aku paling takut untuk berilusi?
Kau adalah ilusi
Kau Cuma mimpi
Taukah kau? Aku membencimu,di setiap pendarmu,aku tak mau
Jangan datangi aku lagi
Taukah kau,begitu payah aku berjalan untuk berlari darimu,dan kau selalu mengikutiku,aku kaku dalam keterpakuanku,jejakku tak banyak,karna aku lelah
Tolong..
Jangan mengikutiku,aku akan mati
Itukah yang kau mau?
(untuk hari-hari penuh perjuangan agar berusaha tegar dan teguh-special for El)
Jun,01,2010
kau begitu ringan,melayang dan beterbangan di depan mataku,apakah aku bermimpi? Kau begitu indah,bersinar bagai kuang-kunang,dank au menatapku dengan selaksa mata bintangmu,mengapa kau menghampiriku? Tidakkah kau tau aku paling takut untuk berilusi?
Kau adalah ilusi
Kau Cuma mimpi
Taukah kau? Aku membencimu,di setiap pendarmu,aku tak mau
Jangan datangi aku lagi
Taukah kau,begitu payah aku berjalan untuk berlari darimu,dan kau selalu mengikutiku,aku kaku dalam keterpakuanku,jejakku tak banyak,karna aku lelah
Tolong..
Jangan mengikutiku,aku akan mati
Itukah yang kau mau?
(untuk hari-hari penuh perjuangan agar berusaha tegar dan teguh-special for El)
Jun,01,2010
Senin, 24 Mei 2010
ku lepas kerlip itu
Bila sempat mampirlah ke pondokku…
Ujarmu kala itu padanya. Dan aku melihat ada pendar harap di dua bola matamu yang coklat muda. Bila melihat ke dua bola matamu,aku jadi ingat mocacino kesukaanku.
Kau nampak sangat suka padanya. Mungkin kau berpikir kau telah jatuh cinta. Jatuh cinta yang ke 2 kali dengan orang yang sama. Aneh? Tidak. Sangat wajar bagiku. Aku menganggap cinta itu adalah satu. Bila kau mencintai seseorang,kau harus menyimpan cinta itu meski kamu sakit dan terluka terkena kail pancingnya. Dan aku suka dengan caramu mencintainya.
Rasa cintamu yang sangat besar kadangkala membuat jeda antara atmosfir langit keangkuhanmu dengan tanah yang selalu merendah di posisi terbawah bumi. Kau nampak malu-malu saat memandangnya dan mata kalian bertabrakan bagai meteor yang jatuh menghantam bumi. Entah seporak porandakah hatimu?
Kau sangat gelisah bila dia tak datang di tempat kalian biasa bertemu. Pandanganmu terlihat gelisah dan kau ingin cepat-cepat pergi dan berlari dari ruang peraturan yang kaku dan dingin itu. sayang kau tak bisa. Kau wajib dan harus ada di sana.
Malam tiba dan kau selalu berkutat dengan apa yang kau sebut teman menjelang tidur. Computer dan berkas. Taukah kau,ada secercah bintang yang melihatmu dari atas berharap kau melihatnya bersinar? Ah kau terlalu acuh dengan hal kecil. Yah,aku sering bilang bintang itu kesukaanku,karna meski terlihat sangat jauh dan kecil tapi sinarnya sangat jelas berkelip. Seperti menyapaku yang sangat jauh darinya. Akh..lagi-lagi aku lupa kau tidak suka hal remeh,kau suka hal yang besar.
Kau berdiri dan mengedarkan pandanganmu. Aku tau. Kau menantinya. Tapi dia tak datang hari itu. dan juga setelah itu,dan kemudian. Aku tau kau kecewa. Aku juga pernah kecewa,saat menanti hujan meteor tapi tak pernah terlihat satupun olehku. Seperti kata orang bijak,mungkin belum waktunya. Yah,mungkin memang belum saatnya kau mendapatkan dia. Mungkin…
Kerlip bintang malam ini tak begitu jelas. Mungkinkah bintang kesukaanku itu enggan melihatku lagi,karna sebenarnya bukan aku yang ingin di jumpainya tapi kamu. Tak apalah. Aku mencintainya,dan meski sakit aku rela di tusuk kail pancing itu. dan kau masih di sana. Sibuk dengan teman abadimu,benda mati yang tak pernah bisa mengajakmu bicara,atau mencintaimu. Ku lihat ke dua bola matamu tak sebening dulu lagi meski masih berwarna coklat muda. Aku baru sadar,kau telah kehilangan pendar dan binar indahnya di sana….dan aku juga kehilangan kerlip bintangku nun jauh di sana….
(mengenang sabtu saat makan beratap langit penuh bintang- Fre™)
Ujarmu kala itu padanya. Dan aku melihat ada pendar harap di dua bola matamu yang coklat muda. Bila melihat ke dua bola matamu,aku jadi ingat mocacino kesukaanku.
Kau nampak sangat suka padanya. Mungkin kau berpikir kau telah jatuh cinta. Jatuh cinta yang ke 2 kali dengan orang yang sama. Aneh? Tidak. Sangat wajar bagiku. Aku menganggap cinta itu adalah satu. Bila kau mencintai seseorang,kau harus menyimpan cinta itu meski kamu sakit dan terluka terkena kail pancingnya. Dan aku suka dengan caramu mencintainya.
Rasa cintamu yang sangat besar kadangkala membuat jeda antara atmosfir langit keangkuhanmu dengan tanah yang selalu merendah di posisi terbawah bumi. Kau nampak malu-malu saat memandangnya dan mata kalian bertabrakan bagai meteor yang jatuh menghantam bumi. Entah seporak porandakah hatimu?
Kau sangat gelisah bila dia tak datang di tempat kalian biasa bertemu. Pandanganmu terlihat gelisah dan kau ingin cepat-cepat pergi dan berlari dari ruang peraturan yang kaku dan dingin itu. sayang kau tak bisa. Kau wajib dan harus ada di sana.
Malam tiba dan kau selalu berkutat dengan apa yang kau sebut teman menjelang tidur. Computer dan berkas. Taukah kau,ada secercah bintang yang melihatmu dari atas berharap kau melihatnya bersinar? Ah kau terlalu acuh dengan hal kecil. Yah,aku sering bilang bintang itu kesukaanku,karna meski terlihat sangat jauh dan kecil tapi sinarnya sangat jelas berkelip. Seperti menyapaku yang sangat jauh darinya. Akh..lagi-lagi aku lupa kau tidak suka hal remeh,kau suka hal yang besar.
Kau berdiri dan mengedarkan pandanganmu. Aku tau. Kau menantinya. Tapi dia tak datang hari itu. dan juga setelah itu,dan kemudian. Aku tau kau kecewa. Aku juga pernah kecewa,saat menanti hujan meteor tapi tak pernah terlihat satupun olehku. Seperti kata orang bijak,mungkin belum waktunya. Yah,mungkin memang belum saatnya kau mendapatkan dia. Mungkin…
Kerlip bintang malam ini tak begitu jelas. Mungkinkah bintang kesukaanku itu enggan melihatku lagi,karna sebenarnya bukan aku yang ingin di jumpainya tapi kamu. Tak apalah. Aku mencintainya,dan meski sakit aku rela di tusuk kail pancing itu. dan kau masih di sana. Sibuk dengan teman abadimu,benda mati yang tak pernah bisa mengajakmu bicara,atau mencintaimu. Ku lihat ke dua bola matamu tak sebening dulu lagi meski masih berwarna coklat muda. Aku baru sadar,kau telah kehilangan pendar dan binar indahnya di sana….dan aku juga kehilangan kerlip bintangku nun jauh di sana….
(mengenang sabtu saat makan beratap langit penuh bintang- Fre™)
Langganan:
Postingan (Atom)